The true love itu sebetulnya gak mengenal patah hati. Dalam cinta, yg kita inginkan sebetulnya adalah kebahagiaan org yg kita cintai. Bukan kebahagiaan kita sendiri. Cinta adalah self-destruction, menghancurkan diri sendiri demi kebahagiaan org lain, org yg kita cintai. Dalam cinta tolok ukurnya adalah eksistensi org lain, suka dukanya. Bukan kepentingan kita sendiri. Bukan air mata kita. Bukan tawa kita. Dan bukan diri kita. Kita hrs berani mengatakan: “Yang terluka padamu, berdarah padaku”. The paradox of love: if you love until it hurts, there can be no more hurt, only more love. Dan pd level yg tertinggi, cinta itu menjadi self-denial, dlm bhs perancisnya “Neantisation”, proses peniadaan dan pembukaan diri, suatu totalitas dimana subject dan object lebur menjadi satu. Kalau org yg kita cintai masih merupakan “object” utk kepentingan subject, maka itu disebut “eros”. Bukan cinta. -Ferry Latuhihin-